Tampilkan postingan dengan label Renungan Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Pribadi. Tampilkan semua postingan

11.9.11

Hutang Nyawa, Hutang Budi dan Balas Budi

Dunia ini sungguh aneh, sangat aneh. Begitu banyak hutang disana sini. Bukan hanya hutang materi yang dapat dijumlah tetapi juga hutang – hutang yang bersifat abstrak. Yang pertama “Hutang Nyawa” Setiap hari terjadi pembunuhan (silahkan baca Koran) si A menghilangkan nyawa si B, karena si B keluarga si C, maka si C menganggap si A berhutang nyawa. Hutang materi bisa dijumlah, bisa dikalkulasi sehingga bisa dihitung dan dibayar. Bagaimana dengan “Hutang Nyawa”  Apakah setiap hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa???? Bila hutang nyawa dibayar dengan nyawa, sampai kapan hutang tersebut akan lunas??

Kemudian yang kedua adalah “Hutang Budi”, dalam kehidupan ini kita diajarkan untuk saling menolong, saling memberi, saling membantu terhadap sesama (ini adalah pelajaran yang ditanamkan sejak sekolah dasar). Seharusnya ini adalah hal yang lumrah. Ketika seseorang butuh bantuan dan kita bisa membantu ya kita bantu. Semua orang pernah membantu orang lain. Semua orang pernah menerima bantuan dari orang lain. Ini adalah hukum alam. Ini bukan hal yang mulia tetapi hal yang sangat manusiawi sekali. Konsep Hutang Budi timbul karena manusia memiliki rasa, memiliki emosi, dan memiliki nurani. Ketika ditolong, ia ingin membalas pertolongan tersebut. Sebuah konsep yang sangat baik dan sangat indah. Ada sebuah cerita yang sangat indah tentang Hutang Budi dan Balas Budi ini.

Ada seorang anak lelaki miskin.
Ia sangat kelaparan, tapi tak punya uang. Anak itu memutuskan mengetuk pintu sebuah rumah utk meminta makanan.
Namun keberaniannya lenyap saat pintu dibuka oleh seorang gadis muda. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya meminta segelas air.
Gadis itu tahu, anak ini pasti lapar. Maka,ia membawakan segelas besar susu.
“Berapa harga segelas susu ini? " tanya anak lelaki itu
”Ibu mengajarkan kami, jangan minta bayaran atas perbuatan baik kami " jawab si gadis muda itu
“Aku berterima kasih dari hati yang paling dalam. " balas anak lelaki itu

Sekian tahun berlalu..
Gadis itu tumbuh menjadi wanita dewasa dan mengalami sakit kronis..
Dokter di kota kecilnya angkat tangan. Ia dibawa ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis. Dokter Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.
Pada saat mendengar nama kota asal wanita itu, terbersit pancaran aneh dimata dokter tersebut.
Bergegas ia turun dari kantornya dilantai atas menuju kamar wanita tersebut.
Dalam balutan baju putih kedokterannya, ia langsung mengenali wanita itu.
Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya wanita itu bisa disembuhkan.
Wanita itu menerima amplop tagihan RS dalam ketakutan. Ia tak akan mampu membayar, meski dicicil seumur hidup. Dengan tangan bergetar, ia membuka amplop itu, dan menemukan catatan dipojok atas tagihan...
"Telah dibayar lunas dengan segelas susu"
Tertanda, dr. Howard Kelly.
Note :
Cerita ini disadur dari buku pengalaman dr. Howard Kelly dalam perjalanannya melalui Northern Pennsylvania.
Dokter Howard Kelly adalah dokter yang sangat dihormati. Pada thn 1895, ia mendirikan Division of Gynecologi c Oncology di John Hopkins University ¤

Dalam cerita ini, biaya pengobatan yang sangat mahal itu telah dibayar dengan segelas susu. Sungguh cerita yang sangat luar biasa indah. It’s beyond words.



Dalam Buddhisme, ini adalah rantaian sebab dan akibat, setiap kejadian adalah karena hubungan karma di masa lalu. Ketika anda ditolong oleh seseorang dalam bentuk apapun, bahkan ketika anda diselamatkan dari kematian, ingatlah bahwa di masa lalu atau di kehidupan sebelumnya, anda telah memberinya “segelas susu”, dan sekarang ia mengembalikan “segelas susu” yang pernah anda berikan, bila anda merasa sangat berhutang budi dengan seseorang itu, silahkan anda memberinya “segelas susu” lagi dikemudian hari.


Note : Buat yang memiliki dilema "Menikah untuk membalas budi"
 "Segelas susu" dibayar dengan "Segelas susu". Hutang Budi dibayar dengan Budi baik. Hutang Budi tidak dapat dilunasi dengan pernikahan, atau pengabdian. Karena ini adalah 2 hal yang sangat berbeda. Bila kebaikan dan ketulusan dapat dilunasi dengan pernikahan, akan ada begitu banyak poligami di dunia ini, dan kita yang tidak suka poligami akan takut untuk berbuat baik atau menolong orang lain.

16.10.09

Cinta Tanpa Cien


-->Saat ini zaman serba susah. Harga BBM naik, akibatnya terjadi PHK di berbagai perusahaan.
Salah satu yang terkena PHK adalah Paijo. Bulan ini ia tidak bisa lagi mengirim uang untuk istrinya di kampung halaman.

Ia hanya bisa mengirim surat. Isinya demikian:

Istriku Tercinta,
Maafkan kanda sayang, bulan ini Kanda tidak bisa mengirim uang untuk kebutuhan keluarga di rumah. Kanda hanya bisa mengirimimu 1000 ciuman.

- Kanda Paijo -

Seminggu kemudian Paijo mendapat surat balasan dari istri tercintanya:

Kanda Paijo tersayang,

Terima kasih atas kiriman 1000 ciumanmu. Untuk bulan ini Dinda akan menyampaikan laporan pengeluaran keluarga :

Tukang minyak bersedia menerima 2 ciuman setiap kali membeli 5 liter minyak tanah. Tukang listrik mau dibayar dengan 4 ciuman per tanggal 10 setiap bulannya.

Pemilik kontrakan rumah mau dibayar cicil dengan 3 kali ciuman setiap harinya.

Engkoh pemilik toko bahan makanan tidak mau dibayar pakai ciuman. Ia maunya dibayar dengan yang lain.. Ya terpaksa Dinda berikan saja.

Hal yang sama juga Dinda berikan buat kepala sekolah dan gurunya si Udin yang sudah 3 bulan nunggak uang sekolah.

Besok Dinda mau ke pegadaian untuk tukerin 200 ciuman dengan uang tunai, karena yang punya pegadaian sudah bersedia menukarkan 200 ciuman ditambah bayaran lainnya dengan uang Rp650 ribu, lumayan buat ongkos sebulan.

Keperluan pribadi Dinda bulan ini mencapai 50 ciuman.

Kanda tersayang..
bulan ini Dinda merasa jadi orang yang paling kaya di kampung, karena sekarang Dinda memberikan piutang ciuman ke banyak pemuda di kampung kita dan siap ditukar kapan pun Dinda butuhkan.

Kanda, dari kanda masih tersisa 125 ciuman, apakah kanda punya ide? atau dinda tabung saja ya?

- Dinda tersayang -

Gedubrak!! Paijo pun pingsan

Sekilas..., guyonan (yang entah ditulis oleh siapa...) ini mengundang tawa, paling tidak sebuah senyuman bagi yang membacanya. Termasuk saya pribadi... Namun ada yang membuat saya merenung, karena disekeliling kita pun sudah banyak fenomena serupa. Cukup banyak kisah perceraian yang diwarnai masalah materi. Banyak juga yang betah melajang hingga tua. Tanpa bermaksud untuk mengeneralisasi, bahwa kata "matre" mungkin adalah hal yang wajar terutama bagi wanita. Siapa sih yang mau hidupnya susah?? Saat ini.., dimana wanita sudah emansipasi dan mandiri, kriteria untuk mencari calon suami akan bertambah. Klo dulu.., seorang pria yang sudah bekerja dan punya kendaraan roda sudah dianggap cukup mapan untuk dinikahi. Klo sekarang.., kata "mapan" itu sudah mengalami upgrade. Seorang pria harus dilihat dulu apa pekerjaannya? berapa penghasilannya??

Terlepas dari dualitas "benar" dan "salah", "tepat" dan "tidak tepat", peristiwa dan kejadian termasuk pengalaman pribadi membentuk paradigma saya seperti saat ini. Apakah esok paradigma saya akan berubah?? entahlah... yang jelas saat ini Cinta Tanpa Cien adalah menderita ^^

18.9.09

Bersyukur Sejenak

Bila menoleh ke belakang. Cukup banyak berkah yang telah dilimpahkan oleh Sang Pemilik Semesta terhadap diri ini. Ada berkah orang tua yang memberikan kebebasan, ada berkah saudara yang sangat peduli dan sayang keluarga, ada berkah orang - orang yang telah membimbing ke arah yang benar ketika diri ini berada di persimpangan, ada berkah ilmu pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui bangku kuliah, ada berkah memperoleh komputer dan sepeda motor dari hasil keringat sendiri, berkah sebuah rumah dengan halaman, dan berkah - berkah lainnya yang bila disebutkan mungkin blog ini pun tidak akan mencukupi. Semoga diri ini selalu ingat dan bersyukur. Semoga diri ini tidak pernah mengeluh. Semoga diri ini selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik.

22.7.09

Mendengar Suara Alam

Dalam kehidupan jaman sekarang ini, kita dituntut untuk serba cepat dan selalu terburu-buru. Sehingga terkadang hampir tidak memiliki waktu untuk refleksi diri. Mungkin banyak dari kita yang sudah lama tidak merasakan butiran - butiran pasir halus di bawah telapak kaki kita, karena dalam keseharian selalu menggunakan mobil atau motor untuk pergi kemana - mana, bahkan untuk ke mini market yang masih di dalam komplek perumahan kita sekalipun. Mungkin banyak juga dari kita yang sudah lama tidak berada di antara rumput ilalang yang melambai karena tiupan angin, apa lagi mendengarkan suara serangga. Saat kejenuhan datang menghampiri, mungkin itulah saatnya untuk mendengarkan suara - suara alam. Lepaskan alas kaki anda, tinggalkan ponsel anda, telusurilah jalan di sekitar rumah anda. Rasakan butiran debu atau pasir dengan telapak kaki anda. Rasakan desiran angin yang lembut. Dengar lah suara - suara serangga. Itu akan membuat semangat anda kembali.

20.6.08

Success is My Destiny

Setiap orang yang berada di planet bumi ini ( yang berakal sehat ) sedang berada dalam proses perjuangan untuk menggapai kesuksesan, kesejahteraan materi, dan kebahagiaan. Setiap hal yang kita lakukan, motivasinya adalah mengejar kesuksesan, kesejahteraan materi, dan kebahagiaan. Kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan adalah hasil dari perjuangan. Perjuangan dalam meniti jalan setapak kehidupan.

Hidupku yang baru dua puluh enam tahun ini pun juga tidak lepas dari serangkaian perjuangan. Lelah? Lumayan! Tapi tanggung kalau harus menyerah dan berhenti di sini. Saat aku menoleh ke belakang, memang hidup selama dua puluh enam tahun rasanya lumayan lama juga. Baru pada usia yang sekarang inilah aku menyadari bahwa kedua orang tuaku adalah orang – orang yang perkasa karena bisa hidup selama lebih dari lima puluh tahun dalam kondisi ekonomi yang kurang oke tanpa bunuh diri. Bravo!! Terlebih lagi mamaku yang kami juluki Wanita Perkasa. Betapa tidak, sejak aku dan dua orang saudaraku masih kecil, beliaulah orang yang selalu berjuang untuk kepentingan ketiga orang anaknya. Mulai dari berjualan es cendol dan embem di depan rumah kami, berjalan kaki berpanas – panasan untuk menjajakan kantong plastik dan sampul buku dari satu tempat ke tempat lain, sampai mengambil upahan menjahit. Mulai dari ditinggal oleh papaku selama kurang lebih tiga bulan tanpa kabar, sampai membayar hutang – hutang papaku. Bahkan hingga saat ini, di usianya yang enam puluh tahun, beliau masih memiliki keinginan untuk membuka warung. Karena beliau masih memiliki impian yaitu memiliki rumah sendiri. Apakah mamaku orang yang sukses? Tentu saja! Mamaku adalah orang yang sukses. Sukses menapaki jalan kehidupan. Sukses mengatasi kejenuhan yang kerap kali menyapa. Dan sukses membesarkan dan mendewasakan ketiga orang anaknya.

“Masa depan adalah milik mereka yang percaya tentang keindahan mimpi – mimpi mereka”
( Eleanor Roosevelt )

Walaupun masa kecil kami (aku dan dua orang saudaraku) boleh di bilang jauh dari kelimpahan materi. Walaupun saat usiaku kurang lebih tiga tahun kami sempat tidak memiliki uang untuk membeli beras apalagi untuk membayar kontrakan rumah karena papaku tidak memiliki pekerjaan. Aku sungguh tidak ingin menyebut keadaan pada masa itu dengan kata “miskin”. Karena kami masih memiliki kesehatan yang baik. Karena kami tidak tidur di kolong jembatan. Karena kami masih memiliki tetangga yang baik hati yang telah banyak membantu keluarga ini di masa – masa sulit itu ( Terima kasih buat Lek Mun, Mbak Ani dan Mas Koko. Terima kasih ). Lebih dari itu, karena di masa – masa sulit seperti itu pun masih tersimpan serangkaian kenangan indah. Ada kenangan indah ketika makan malam bersama mamaku dan dua orang saudaraku dengan sebungkus nasi sayur yang kami barter dengan sebungkus karet gelang. Ada kenangan indah ketika kami merayakan imlek hanya dengan kue tusuk gigi yang kami buat dari hasil kerjaku sebagai pemulung. Ada kenangan indah ketika kakak sulungku menyewa sepeda untuk pertama kalinya dari hasil menjual sebutir telur ayam kampung peliharaan kami. Sungguh serangkaian kenangan yang indah. Aku pun suka tersenyum bila mengingat saat – saat itu.

Memang tidak seperti halnya anak – anak yang terlahir dalam keluarga yang berkelimpahan materi, yang mau apa saja tinggal minta sama bokapnya, yang dapat menikmati sekolah yang mewah, yang bisa belajar hingga perguruan tinggi bahkan sampai ke luar negeri (aku juga mau....) tanpa harus bekerja paruh waktu. Kami memang tidak seberuntung mereka. Tetapi meminjam kata orang bijak “Aku bersedih karena tidak punya sepatu sampai aku melihat orang yang tidak punya kaki” Apabila direnungkan, sesungguhnya kehidupan kami masih lebih baik dibandingkan sebagian besar orang yang tidak punya tempat tinggal, tidak punya keluarga, bahkan tidak sedikit anak yang putus sekolah. Kami jauh lebih beruntung dari mereka. Karena sejak Sekolah Dasar ( SD ) kami sudah memiliki kesempatan untuk menikmati bekerja paruh waktu. Karena sejak Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) kami sudah memiliki kesempatan membayar SPP sendiri, beli buku sendiri, dan tidak perlu minta uang jajan lagi. :-) Walaupun terkadang ada rasa iri di dalam hati ini, iri terhadap mereka yang bisa belajar hingga ke luar negeri, aku masih bersyukur dengan pendidikan yang berhasil ku raih hingga saat ini. Ternyata, lahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara merupakan suatu berkah bagiku. Betapa tidak, karena dalam keluarga ini hanya aku yang memiliki kesempatan untuk belajar hingga jenjang Diploma III dan memperoleh gelar Ahli Madya. Dan itu semua berkat kerja keras dan pengorbanan seluruh anggota keluarga. Pengorbanan papa dan mamaku yang setiap aku hendak menerima rapor Sekolah Dasar selalu berusaha mencari pinjaman untuk melunasi tunggakan SPP, pengorbanan dua orang kakakku yang mencetak sampul buku selama 1 – 2 hari lalu menjualnya guna mendapatkan uang untuk mendaftarkan aku di Sekolah Menengah Pertama ( SMP ), dan pengorbanan kakak perempuanku yang melepaskan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas ( SMA ) yang baru berjalan tiga bulan agar kakak sulungku bisa menyelesaikan sekolahnya dan agar aku dapat melanjutkan sekolah ke jenjang Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ).

Sejak sekolah dasar, kami mulai belajar mencari uang untuk membantu orang tua. Dalam fase ini, kakak sulungku adalah orang yang memegang peranan yang paling besar dalam mengubah pola berpikirku. Ia memutuskan untuk menjual koran setelah dimarahi oleh mama dan papaku karena bertengkar dengan anak tetangga gara – gara main bola. Saat itu ia masih berada di kelas tiga Sekolah Dasar ( SD ). Setelah dimarahi oleh mama dan papa, mulai keesokan harinya kakakku tidak suka bermain – main lagi. Ia lebih memilih menjual koran bersama dengan teman sekolahnya. Cukup lama juga ia menjual koran, dan cukup banyak yang dapat ia raih ketimbang bermain bersama anak tetangga. Ia mulai bisa membayar SPPnya sendiri, membeli buku, membeli beberapa ekor ayam kampung untuk di pelihara dan kadang – kadang mentraktir adiknya makan bakso atau mie pangsit :-) masih ada dalam memori otakku saat aku mulai mengikuti jejaknya menjual koran. Setiap hari minggu, sehabis menjual koran kami membuat janji untuk bertemu di arena bermain, lalu main game bersama. Setelah itu ia mengajakku membeli bakso di daerah pertokoan Dika untuk dibawa pulang.

Setelah beberapa tahun menjual koran, ia beralih profesi menjadi pegawai di percetakkan pamanku. Saat itu ia sudah di Sekolah Menengah Pertama ( SMP ). Mungkin penghasilan yang dia peroleh di tempat itu lebih besar dari hasil menjual koran sehingga ia memutuskan untuk pindah. Di sana ia bekerja sebagai tukang sablon, mencetak kalender, dan membuat kotak – kotak baut dari kardus rokok. Dalam fase inipun cukup banyak yang bisa ia raih. Dari mulai membeli sepeda, mengontrak rumah, membeli kursi, membeli televisi, sampai mencoba menjalankan industri rumah tangga. Saat itu kakakku sudah mulai menjalani pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Atas ( SMEA PGRI 01 ). Ia bekerja sama dengan sahabatnya untuk memproduksi lilin. Kami sekeluarga pun membantunya di bidang produksi dan penjualan. Tetapi usaha tersebut tidak bertahan lama.

Masa kecil yang jauh dari kelimpahan itulah yang mendidik kami untuk mandiri, yang menempa kami untuk belajar dewasa. Masa kecil itu juga yang membuatku bersyukur karena memiliki dua orang saudara yang begitu sayang terhadap adik bungsunya.

Ternyata, jalan menuju puncak kesuksesan itu bukan seperti jalan tol yang bebas hambatan, melainkan mirip jalan setapak di pegunungan yang berkelok – kelok dan banyak batunya.

Hidup Adalah Pilihan

“Life is a choice” Hidup adalah pilihan. Menurut saya kalimat tersebut ada benarnya juga. Bila kita renungkan, dalam satu hari ada begitu banyak hal yang harus kita tentukan dan dalam setiap keputusan yang kita ambil, ada sebuah konsekuensi yang akan terjadi, dan terkadang memiliki dampak yang tidak kecil terhadap orang lain. Setiap hari, kita memiliki begitu banyak pilihan. Dari pilihan yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Kita dapat memilih untuk mematuhi peraturan lalu lintas atau mengabaikannya. Kita dapat memilih menjadi orang yang proaktif atau reaktif. Kita dapat memilih berteman dengan orang bodoh atau dengan orang yang bijaksana. Dan kita dapat memilih menjadi orang baik atau jahat.

Kesadaran dan kepedulian terhadap sesama adalah faktor yang menentukan keputusan mana yang akan kita ambil. Ketidaksadaran dan ketidakpedulian menyebabkan kita melakukan sesuatu yang seringkali merusak ketertiban. Dalam keseharian, cukup banyak orang yang tidak memiliki kepedulian. Di persimpangan – persimpangan dimana tidak ada polisi yang bertugas, tidak sedikit orang yang tidak sabar menunggu giliran yang akhirnya lebih memilih untuk melanggar lampu merah. Dan terkadang, kepedulian dan kepatuhan pun dianggap suatu hal yang bodoh dan salah. Beberapa waktu yang lalu, saya sedang dalam perjalanan ke STMIK MDP, ketika sampai di perempatan di depan Restaurant Selatan Indah saya menghentikan sepeda motor saya karena lampu sedang merah, beberapa saat kemudian salah seorang pengendara motor bergerak maju dan menerobos lampu merah, dan beberapa pengendara lainnya kemudian jadi ikut – ikutan, malah mobil yang ada dibelakang saya mulai membunyikan klakson agar saya segera maju walaupun lampu lalu lintas masih merah. Kejadian serupa juga sering terjadi di perempatan Jl. Radial. Perempatan ini tertib hanya kalau ada polisi yang bertugas. Tapi sayangnya pos polisi di persimpangan ini hampir setiap hari tidak ada petugas yang jaga. Beberapa kali saya berpapasan dengan pengendara motor atau mobil angkot yang melanggar lampu merah, dan terkadang ada yang berteriak dan memaki saya. Bingung juga, dia yang salah kok dia yang marah. Ironis memang. Bangsa yang sudah boleh dibilang tua ini ternyata masih belum dewasa. Masih butuh diatur dan diawasi seperti anak kecil.

Dalam kehidupan beragama pun kita juga memiliki pilihan. Kita bisa memilih untuk menjadi orang yang fanatis terhadap agama tertentu atau menjadi orang yang universalis, yang terbuka pada setiap ajaran – ajaran kebaikan yang bersifat universal, tanpa membatasi diri dengan tembok – tembok syariah agama. Fanatisme terhadap agama dalam kadar tertentu memang membawa dampak positif dalam bentuk disiplin diri, tetapi dengan pemahaman yang dangkal akan membangkitkan rasa “Paling Tau” dan “Paling Benar” yang pada akhirnya akan menimbulkan perselisihan terhadap kelompok agama lain, bahkan terhadap sesama dalam kelompok itu sendiri.

Ada sebuah prinsip indah yang diberikan oleh salah satu Guru Dunia, “Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku”, sebuah prinsip yang sangat selaras dengan Semboyan Luhur Pancasila “Bhinneka Tunggal Ika”, yang bila diamalkan dalam kehidupan sehari – hari bisa membuat manusia hidup bersama dalam perbedaan dengan damai dan tanpa permusuhan. Bukankah tujuan utama kita adalah untuk memperoleh kehidupan yang damai dan bahagia? Seperti anak TK yang berhenti belajar dan hanya mengerti A = Apel, Fanatisme hanya menunjukkan bahwa kita belum dewasa secara spiritual, dan belum cukup dewasa dalam memahami ke-Esa-an Tuhan.

Saat bangun tidur, kita bisa memilih untuk bangun lebih pagi dan menikmati keheningan, bermeditasi, membaca buku favorit kita sambil mendengarkan alunan musik yang lembut dan menyambut mentari, lalu memulai aktivitas dengan lebih santai dan lebih fresh, atau kita bisa memilih untuk bangun agak siang, lalu mandi dengan buru – buru, tidak sempat sarapan, dan pergi ke kantor dengan perasaan was – was karena takut terlambat. Saat di perjalanan sebuah bis kota yang ugal – ugalan hampir mencelakai kita, kita mempunyai pilihan untuk memaki – maki sopir yang berengsek tersebut dan mungkin makian kita akan membuatnya tersinggung lalu menantang kita berkelahi dan membuat jalanan menjadi macet, atau kita memilih untuk menarik nafas panjang dan melupakan kejadian tersebut lalu menikmati hari kita dengan senyuman. Dalam interaksi sosial pun kita dihadapkan pada pilihan. Apakah kita memilih untuk menjadi budak nafsu, lalu mempermainkan perasaan seseorang dan predikat orang berengsek akan melekat pada diri kita, atau kita lebih memilih menjadi orang baik yang dapat mengendalikan nafsu dan menghargai perasaan orang lain. Everything has a consequences. Segala sesuatu memiliki konsekuensi. Inilah Hukum Sebab Akibat, sebuah prinsip universal yang maha adil dan tidak diskriminatif. Siapapun kita, apapun agama kita, dan apapun status kita, prinsip ini tetap berlaku untuk kita. So, what is your choice?

18.6.08

Waspada terhadap pikiran

Waktu dalam bentuk clock time memang berjalan ke depan tanpa ada yang bisa mengeremnya. Namun psychological time, ia bisa maju atau mundur tergantung seberapa kuat pikiran berkuasa dalam kehidupan seseorang. Siapa saja yang menggendong terlalu banyak masalah dan musibah dalam hidupnya, umumnya memiliki pikiran yang melompat – lompat. Ketika melompat ke masa lalu, temannya bernama penyesalan, kenangan tak terlupakan, marah yang tak termaafkan, dengki yang tidak terobati. Tatkala melompat ke depan, sahabatnya bernama harapan, cita – cita, kekhawatiran, ketakutan, ketidakyakinan, ujung – ujungnya hidup di masa kini jadi lenyap.

Sebenarnya, kita tidak punya masalah. Masalah hanya ada pada pikiran yang sibuk mondar mandir ke depan serta ke belakang. Tatkala pikiran tidak lagi sibuk mondar mandir ke depan dan ke belakang, manusia membiarkan tangan Maha sempurna bekerja sempurna. Akhirnya, masalah dan musibah lenyap, diganti oleh hadiah dan berkah. Saat ini dalam bahasa inggris disebut “present” atau hadiah. Dan setiap hadiah memang selayaknya disyukuri agar semuanya menjadi berkah. Ada berkah yang lahir jadi manusia, udara yang berlimpah, kesehatan yang amat berharga, keluarga yang bahagia, teman – teman yang istimewa, dan masih banyak lagi berkah – berkah lainnya.

14.6.08

Game dan Filosofi Kehidupan

Saya bukan mania game, tapi ada beberapa game yang menjadi favorit saya. Dan main game sebenarnya bukan suatu hal yang tidak baik. Selain sebagai hiburan dan untuk mengasah otak, terkadang bermain game pun dapat memberikan pelajaran tentang kehidupan. Ada sebuah PC game bertema adventure yang sangat saya sukai. Game yang penuh dengan Filosofi ini berkisah tentang seorang Putra Mahkota pada masa Dinasti Qin yang bernama Fusu. Ia dikhianati oleh saudara kandungnya sendiri yang telah diperalat oleh seorang kasim kerajaan. Dan Kasim yang telah mengambil alih kekuasaan memerintahkan semua prajurit untuk memenggal Putera Mahkota tersebut atas nama Kaisar. Setelah lolos dari maut, ia berusaha mencari info apa yang sebenarnya terjadi


Dalam perjalanannya untuk mencari info mengapa dirinya hendak dibunuh, ia membuat rencana – rencana dan tujuan jangka pendek. Tujuan pertama, ia merencanakan dan memutuskan untuk kembali ke Xian Yang Ibukota kerajaan untuk mencari istri dan anak serta sahabatnya. Setelah berhasil mencapai tujuan yang satu, ia akan membuat rencana dan menetapkan tujuan berikutnya. Dalam proses perjalanan untuk mencapai tujuan – tujuannya ia bertemu dengan berbagai macam orang dengan karakter yang berbeda – beda. Ada yang baik, ada yang jahat, ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang kikir, ada yang dermawan, ada yang lugu, ada yang malas, ada yang murah hati, dll. Setiap pertemuan akan menimbulkan sesuatu, entah itu menjalin persahabatan, memberi pertolongan, atau bertarung, dll. Rangkaian peristiwa tersebut akan berpengaruh terhadap kemampuan dan kebijaksanaannya. Dan di antara orang – orang yang ia temui, ada beberapa yang menjadi sahabat sejati sekaligus teman perjalanannya.


Dalam kehidupan kita pun demikian. Tidak akan ada keberhasilan tanpa rencana dan tujuan. Tujuan adalah faktor penting untuk menentukan kemana kamu akan pergi, apa yang kamu inginkan, arah mana yang kamu ambil, dan jalan mana yang kamu tempuh. Tanpa tujuan, hidupmu akan mengambang dan berakhir tanpa prestasi.


Setelah mempunyai tujuan, setelah tahu apa yang kamu inginkan, setelah tahu kemana kamu akan pergi, dibutuhkan rencana dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Karena tanpa rencana dan strategi, kita akan bingung apa yang harus dilakukan, dan apa yang menjadi prioritas.


Agar rencana berhasil dan tujuan bisa tercapai dengan lebih mudah, kita perlu teman yang memiliki tujuan yang sama dan dapat diajak kerjasama. Tidak peduli siapa yang memimpin, selama kesulitan bisa diatasi bersama, selama keberhasilan dapat bermanfaat bagi semua. Bukankah meraih tujuan secara team lebih mudah ketimbang seorang diri ? bukankah melakukan perjalanan bersama team lebih aman daripada berjalan seorang diri ? dan, bukankah menghadapi masalah dan tantangan bersama team akan lebih mudah dan menghemat tenaga ? 1+1=3 Inilah yang dinamakan Sinergi. Dua karakter, dua kepribadian, dua keahlian, namun satu tujuan. Seperti prinsip Musketer yang indah “One For All, All For One”.